[On Going FF] Coincidence – Chapter 2 : That Eyes!

Coincidence : That Eyes!

*1*

Hongki pergi meninggalkan kamar sejenak untuk membasuh muka dan mencari sarapan pagi yang sesuai seleranya. Saking lelah nya ia akhir-akhir ini, ia bahkan tertidur dipunggung tangan Shin Hye, niat mau menjaga yeojah itu malah dirinya yang terjaga sepanjang malam. Ia  terus menguap tanpa henti sembari duduk menunggu pesanan.

Akhirnya pesanan yang ia tunggu tiba, sepiring omelet keju dan secangkir teh hangat. “gumawo ahjussi” ucapnya pada pelayan yang menghidangkan makanan untuknya.

Pelayan itu hanya mengangguk tersenyum seperti ingin mengatakan, “oh ya dihadapanku sekarang artis, artis terkenal sedang makan di kantin kecilku”, pelayan itu lalu berlalu kembali ke dapur, dan beberapa pelayan yeojah tampak berbisik sambil senyum-senyum melihatnya.

Tanpa menunggu lama ia langsung melahap omelet yang lumayan enak tersebut walaupun keju nya agak sedikit kebanyakan dan membuatnya terasa agak asin. Dalam hitungan menit saja omelet tersebut sudah tidak ada lagi dipiring, ia langsung menegak teh hangat dihadapannya. “ah lega sekali, aigu… Shin Hye sudah sadar belum ya?” ia  memasukan ponselnya ke saku dan berjalan menuju kasir.

“total semua nya 15 won” ucap yeojah itu sambil tersipu malu.

“ne” jawabnya sambil mengeluarkan uang yang untungnya masih tersisa uang kecil di dompet. “gumawo” ucapnya lalu berbalik.

“tunggu dulu, Hongki oppa…aku ini penggemarmu” ujar yeojah itu, “aku benar-benar menunggu single kolaborasi terbaru mu keluar dihari valentine nanti” tambah yeojah itu sambil tersenyum aegyo.

Hongki menautkan alis sambil berpikir darimana yeojah ini tahu kalau single kolaborasinya bersama Shin Hye akan rilis pada pertengahan februari, padahal pihak manajemennya belum mengumumkan hal tersebut, “memangnya, kau tahu dari mana kalau oppa akan merilis single duet pada hari valentine?” tanya nya sambil tersenyum pada yeojah itu.

“dari website mu dan berita itu benar-benar heboh sekarang, Hongstar sudah tidak sabar lagi menunggu single itu keluar, oh ya oppa kau akan duet dengan yeojah kan?” tanya yeojah itu polos.

“ne, whae?”

“aku Cuma mau menyampaikan pesan Hongstar, mereka harap tidak ada adegan kiss di MV nya nanti, oppa tahu kami bisa-bisa mati berdiri kalau sampai itu terjadi” tambah yeojah itu.

Respon dari nya hanya tertawa mendengar pesan itu dan kemudian berlalu meninggalkan kantin tersebut. Dengan kepala masih penuh tanda tanya ia terus melangkah menuju kamar Shin Hye, ia berharap setelah yeojah itu sadar mereka bisa mengurus urusan kontrak mereka itu.

Ia membuka pintu kamar Shin Hye dan melihat yeojah yang tadi nya terbaring itu sedang duduk dengan pandangan masih bingung. tanpa ragu ia melangkah masuk dan menyunggingkan senyum, yeojah itu memandangnya dengan tatapan bingung, “Ssinz-ah…Eotteoke cinaesimnika? Tanya nya sambil menghampiri yeojah itu.

“kau siapa? Dan kenapa aku bisa berada disini” tanya yeojah itu lemah.

“mwo? Kau tidak mengenalku Ssinz? Apa kau tidak  mengingat kejadian semalam?” Hongki mulai cemas melihat Shin Hye yang tidak mengenalinya.

Yeojah itu termenung sejenak sambil memegangi kepalanya, sesekali ia meringis seperti merasa sakit, “anieo, aku tidak bisa mengingat apapun, kepalaku sakit sekali…aw!!” jerit yeojah itu.

“baiklah Ssinz-ah..kau tidak perlu memaksa mengingat semuanya, sekarang berbaringlah, aku panggilkan doktermu ya” ucap Hongki sambil membantu Shin Hye untuk berbaring. Ia  langsung berlari cepat menuju ruang dokter.

Sekarang ia hanya bisa duduk termenung menunggu dokter yang sedang memeriksa keadaan Shin Hye didalam. “eotohkaji? Bagaimana kalau ia lupa ingatan!!!” pikiran negative mulai melayang-layang dikepalanya.

Tidak lama dari situ dokter pun keluar dari ruangan itu dan dengan ngebut ia menghampiri nya, “eotokeh? Bagaimana keadaan Shin Hye dok?” tanya nya.

“kau tidak perlu khawatir, nona Shin Hye hanya mengalami amnesia ringan dan seiring waktu ingatannya pasti kembali, apalagi kalau dibantu secara rutin untuk membantunya mengingat, oh ya, nona Shin Hye juga sudah bisa pulang sore ini, tapi harus terus dirawat dan banyak istirahat” ucap dokter itu sambil tersenyum.

“ah ne ne, gamsahamnida euisa-nim…” ucapnya lega. Ia langsung masuk ke ruang kamar itu dan melihat yeojah itu sedang duduk diam dan seketika senyum melihatnya masuk. Ia membalas senyum yeojah itu dan mendekati Shin Hye yang masih tersenyum melihat nya, “whaeo? Kau kenapa melihatku seperti itu?” tanya nya.

“anio… miane Hongki-shii” jawab yeojah itu dengan tersenyum kecil.

“Hya Ssinz-ah…jangan tambahkan –shi dinamaku, panggil saja seperti kau biasa memanggilku, Hongstah!!” terang nya sambil melingkarkan telunjuk dan jempolnya dengan mata berkedip.

Yeojah itu menepuk tempat tidur yang sedang didudukinya, menyuruhku untuk duduk disebelahnya. Ia tidak berhenti tersenyum melihat tingkah namjah itu barusan.

Hongki naik ke tempat tidur tersebut dan duduk disamping yeojah itu, ia memandang yeojah itu heran, dari tadi yeojah ini hanya senyum saja “Ssinz-ah, apa kau sudah merasa agak baikan? Apa masih ada yang sakit?” tanya nya lengkap.

Yeojah itu mengangguk semangat diiringi senyum tanpa henti, “don’t worry, I’m okay!” jawabnya. “Hongki, are we really close-friend?” tanya nya pelan.

Hongki seketika mengangkat sebelah alisnya saat mendengar Shin Hye menjawab dengan bahasa Inggris, “ne, kita itu sahabatan cukup lama” jawabnya. “Ssinz-ah… aku sangat minta maaf atas kecelakaan ini, aku tidak pernah membayangkan untuk bertemu dengan mu dengan jalan ini” tambahnya sambil menggenggam tangan Shin Hye.

“alright, I’m okay Hongki-ah…” ujarnya, “kelihatannya kita sudah cukup lama tidak bertemu, maksudku, aku baru saja menerka ucapanmu barusan” gumamnya lalu tertawa singkat.

Ia hanya meringis cemberut, “kau tampaknya benar-benar lupa segalanya ya?? Kau tahu aku mencari mu kemana-mana selama ini, kau benar-benar membuatku cemas, aku merasa umurku seakan-akan berkurang gara-gara kau dan rasa nya saat itu aku ingin sekali menjitak kepalamu” Hongki tanpa sadar mulai mengomel dengan semangat, tanpa henti, dan lupa kalau yeojah disampingnya itu terperangah melihat reaksinya.

“sorry…” respon Shin Hye. “aku benar-benar menyusahkanmu Hongstar..” ucapnya lalu memeluk Hongki.

Mata Hongki seketika membelalak terkejut, perasaannya mengatakan yeojah ini lain sekali dengan Shin Hye yang dikenalnya sejak lama. Dengan sedikit takut ia menautkan tangannya ke pundak yeojah itu sambil menepuk ringan, ia memaklumi kondisi yeojah itu sekarang.

          * *

Pagi ini seperti biasa Grey –namjah yang baru dikenalnya beberapa hari lalu- menunggunya di dekat minimarket dimana ia bekerja dulu.

Shin Hye kali ini berdandan berbeda dengan kemarin, lebih formal dan elegan karena ia akan bekerja di perusahaan jadi ia harus mengimbangi segalanya.

“hai” sapa Grey dengan senyum nya yang super itu. Namjah itu mengenakan kacamata berbingkai leopard yang menambah elegan bentuk wajah nya, ia sangat mahir dalam me-mix n match pakaian yang dikenakan dengan asesorisnya ditambah lagi tubuhnya yang proporsional itu membuatnya menarik memakai pakaian jenis apapun. Tidak heran banyak tawaran padanya untuk menjadi model Runway sewaktu di Kanada.

Shin Hye hanya bisa membalas senyum namjah tampan di hadapannya ini, ia merasa pertemuannya dengan orang dihadapannya ini seperti mimpi.

“ne annyeonghaseo” sapa Ssinz. Namjah itu terus menatapnya dari atas sampai ke bawah membuatnya risih, “mwo haeyo? Ppaliyo!!! Kita bisa terlambat” ucapnya cepat. Ia tidak mau namjah ini melihat pipinya yang mulai memerah. Dengan langkah panjang ia berjalan menuju mobilnya Grey.

Grey mengerucutkan bibirnya melihat yeojah itu berjalan meninggalkannya, “Hya Ssinz-sii kau lupa ya kalau aku bos nya?” protesnya tapi yeojah itu malah menghiraukannya.

Grey menyesalkan letak studio rekaman yang agak berjauhan, tidak terlalu jauh hanya berbeda lantai, tapi itu sedikit mengganggunya karena tidak bisa sering melihat yeojah yang mirip Allen ini.

Akhirnya mereka tiba ditempat tujuan,  “kita sudah sampai” ucap Grey sambil melepas sabuk pengamannya.

Shin Hye memandang gedung tersebut dan matanya seketika membelalak menatap nama perusahaan rekaman itu “oh god, ini kan perusahaan yang mengontrakku” batinnya.

Grey memandang heran Shin Hye yang dari tadi sibuk menghela nafas dengan alis bertaut seperti ada yang dipikirkannya, “whae Ssinz-sii?” tegurnya.

Shin Hye menoleh cepat menatap Grey, ia terpaksa harus berpura-pura saat ini “ani..kwenchana aku cuma tercengang kau bos diperusahaan ini, ini kan perusahaan rekaman mayor” ucapnya cepat sambil tersenyum menggigit bibir. Ia merasa sangat tidak tega berbohong seperti itu.

Grey hanya tersenyum menanggapi pernyataan yeojah itu dan membuka pintu mobil untuk turun, ia berjalan menuju sisi kanan mobilnya untuk membukakan pintu Ssinz.

Mereka masuk ke gedung yang tidak terlalu besar tapi terlihat sangat elegan itu. Grey mengajak Shin Hye masuk elevator dan turun menuju lantai dasar.

Shin Hye  memandang wajah namjah yang berdiri disampingnya itu, hidungnya membentuk garis lengkungan yang sempurna. “huh, kapan aku bisa punya hidung semancung itu” batinnya sambil memegangi hidungnya sendiri. “Grey-shi..memang nya studio nya terletak dilantai paling bawah ya?” tanya nya memecahkan keheningan, walaupun sebenarnya ia sudah tahu jawabannya.

“nde, …dan kantorku ada dilantai paling atas” jawabnya sambil mendesah panjang. Pintu elevator itu pun terbuka, Grey mempersilahkan yeojah itu keluar duluan, dan beberapa orang yang sedang menunggu didepan elevator membungkuk menyapa Grey.

Shin Hye kali ini benar-benar percaya kalau namjah ini benar-benar seorang pimpinan perusahaan. Ia agak mencemaskan mengenai kontraknya itu, ia takut namjah ini kan menyadarinya dan meminta untuk segera rekaman dan ia belum menulis satu lagu pun untuk album debutnya itu, parahnya lagi partner duetnya, Hongki, ia sudah lama tidak bertemu.

“disini studionya” Grey membukakan pintu kayu tersebut dan berjalan masuk.

Shin Hye berdecak kagum melihat studio rekaman tersebut, ia mengagumi desain ruangan studio itu, suasana yang benar-benar tenang dan tidak terdengar apapun, ia begitu memimpikan punya studio rekaman sendiri yang mirip seperti ini.

Shin Hye memandang sekeliling, “tidak ada orang lain?” tanya nya yang sedari tadi heran kenapa Cuma ada mereka berdua diruangan itu.

“ah paling-paling mereka terlambat lagi” desah Grey sambil menerawang ruangan tersebut. “oh ya, ngomong-ngomong selamat bekerja ya dan aku harap kau betah kerja disini” tambahnya.

“tentu saja, ini benar-benar keren” takjubnya dengan harus menahan ledakan kesenangannya. “thank you, Grey” tambahnya, ia tersenyum sambil menatap lurus ke mata namjah itu.

Grey langsung merasa seperti kesetrum saat mata yeojah itu menatap matanya lurus, tatapan dalam yang tulus, bahkan Allen saja belum pernah memandangnya seperti itu. Ia sangat mengharapkan seandainya Allen yang memandangnya seperti tadi. “okay, aku harus ke kantorku sekarang, selamat bekerja” ucapnya cepat.

Shin Hye mengangguk semangat, “hwaiting!!” ucapnya sambil mengepalkan kedua tangannya.

Grey hanya tertawa sambil mengikuti gerakan yeojah itu lalu berbalik menuju pintu, ia rasanya ingin memindahkan kantornya disini saja. Ia menoleh kebelakang, “Ssinz-sii kalau kau butuh sesuatu, langsung saja datang ke ruanganku dilantai paling atas” ujarnya sambil mengacungkan telunjuknya keatas.

“he eh..” angguk Shin Hye semangat.

*2*

          Hongki mengajak Shin Hye untuk tinggal dirumahnya saja karena yeojah itu merasa tidak tahan dengan suasana rumah sakit. Ia sebenarnya mau mengantar sahabatnya itu kerumah orang tuanya saja tapi, ia sangat tahu bagaimana orangtua yeojah itu merawatnya.

“ini rumahmu Hongki?” tanya Allen yang sedang celingukan menatap sekeliling nya.

Hongki menghela nafas mendengar pertanyaan barusan, Shin Hye dulu tidak sekaku ini saat main kerumahnya , “nde, aku baru mendesainnya, cohayo?”

“chohayo…” jawabnya sambil tersenyum. Allen memandang sekeliling “tapi, kenapa kau mengantarku kemari? Bukannya kau tadi bilang mau mengantarku pulang”.

Hongki berjalan mendekati yeojah itu, ia sudah menduga Shin Hye menanyakan hal tersebut. “Ssinz-ah aku mau merawatmu sendiri karena aku yang menyebabkan kecelakaan ini, dan juga aku mengira kau akan marah kalau ku antar kerumah orangtuamu” jawab nya dengan tidak enak hati.

Allen hanya bisa mengangguk setuju, ia tidak bisa mengingat apapun sekarang ini. Namjah dihadapannya ini sudah sangat baik dan mau merawatnya jadi ia hanya bisa menerima saja. “oh ya, memangnya aku kenapa dengan orangtuaku? Apa aku ada masalah dengan mereka?” tanya nya lagi.

Hongki hanya mengangguk dengan wajah sedih, “hya, kau tenang saja aku akan menjagamu aku janji, Ssinz-ah kau jangan khawatir aku akan selalu mendukungmu walaupun orangtuamu tidak setuju kau jadi artis” ucap Hongki sambil menaruh kedua tangannya dipundak yeojah itu.

“mwo? Artis? Aku bercita-cita ingin jadi artis?” tanya Allen heran dan sedikit merasa geli.

Kali ini Hongki benar-benar merasa bersalah, ia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal itu. Sahabatnya itu bahkan melupakan cita-citanya sendiri dan sudah pasti yeojah itu sudah melupakan projek duet mereka. “iya, kau bahkan nekat berpisah dari orangtuamu karena ingin jadi artis. Kau bilang kau bakal mengalahkan ketenaranku, kau ingat?” tanya sambil mengerjapkan mata beberapa kali didepan yeojah itu.

Allen menjauhkan wajahnya dari wajah Hongki, ia jadi bertambah bingung. ia mengusap kepalanya mencoba mengingat lagi tapi malah membuatnya bertambah pusing. “miane, Hongkia aku tidak ingat semuanya” jawabnya pasrah.

Hongki mendengus dengan wajah cemberut dan tangan terlipat didepan dada, “tidak apa-apa, kau bisa mengingatnya nanti” desahnya, “kelihatannya kau sangat lelah, sekarang kau istirahat saja. Ayo ikut aku” Hongki membimbing yeojah itu menuju kamar yeojah itu.

Mereka berhenti didepan pintu kamar yang terletak disamping sebuah ruangan yang merupakan kamar Hongki sendiri, Hongki membuka pintu tersebut dan mempersilahkan yeojah itu masuk. Ia menangkap ekspresi heran dan asing dari sahabatnya itu. “oetteoke saenggakhaeyo?” tanya nya.

“Kau sungguh namjah yang romantis Hongki, aku suka sekali kamar ini” puji Allen.

“mwo? Aiguu hey tembam bukannya kau ini sangat membenci warna pink, bahkan kau sangat marah padaku saat aku mengecat kamar ini dengan warna ungu”gumamnya kecil sambil menyipitkan pandangan pada yeojah itu.

Allen terus berjalan menyusuri kamar yang agak luas itu, pandangannya tertarik pada gitar akustik tua dan beberapa kertas bertuliskan kord gitar menghampar diatas karpet berwarna putih itu. “wah kau gemar menulis lagu ya Hongki?” tanya Allen yang duduk dikarpet itu dan mengambil salah satu kertas.

Hongki mendengus sambil menghentakan kaki, ia kesal mengapa amnesia Shin Hye  sebegitu parahnya sampai-sampai tidak ingat kamar ini dan perabotannya sendiri, “itu punyamu, kamar ini milikmu juga, kau sering menginap dirumahku setiap hari libur” jelas nya perlahan, ia mendekati yeojah itu yang menekukan alisnya. Ia duduk dikarpet menghadap yeojah itu.

“Ssinz-ah kau tenang saja aku akan membantumu mengingat semuanya, aku janji” ucapnya sambil menggenggam tangan yeojah itu.

Allen merasakan tubuhnya langsung menghangat saat tangan tersebut menyentuh kulitnya. Ia hanya mengangguk dan meletakan tangannya diatas tangan namjah itu.

Hongki beranjak dari duduknya dan menatap sahabatnya itu, “Sudah saatnya kau istirahat Ssinz, aku akan membangunkanmu saat makan malam. Aku keluar dulu dan kalau kau butuh apa-apa kau kekamarku saja” perintahnya lembut, ia berjalan menuju pintu, langkahnya tiba-tiba terhenti mengingat sahabatnya itu pasti tidak tahu dimana kamarnya, “Ssinz-ah kamarku ada disebelah kamarmu ini” tambahnya.

          *3*

“kau pegawai baru tapi kau tampaknya sudah biasa dengan alat-alat ini’ tanya seorang ahjussi yang tampaknya sudah lama bekerja disini sedang mengamati Shin Hye yang sedang asyik mengutak-atik ekualizer.

“ah ne ahjussi, kalau soal musik dan alat-alat musik aku sangat tahu sekali karena aku ini mantan anak band, aku juga pernah menjadi penjaga rental band jadi aku cukup kenal dengan semua ini” jawabnya semangat.

Ahjussi itu hanya tertawa sambil manggut-manggut mendengar jawaban Shin Hye yang polos itu. “tampaknya kau sangat bekerja keras ya? kenapa kau tidak kuliah saja”

“ehm, aku tidak betah dengan pelajaran, bagiku itu membosankan dan hanya membuat kepalaku pusing saja, tugas yang menumpuk, membayangkannya saja aku lelah ahjussi” jawabnya sambil menghembuskan nafas panjang. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dan mereka berdua serentak menoleh, ia mengangkat sebelah tangannya sambil tersenyum saat melihat yang datang ternyata Grey.

“hey ayo kemari duduk disini” tawar Shin Hye sambil menepuk kursi yang kosong disebelahnya.

Ahjussi itu langsung berdiri dan membungkuk melihat Grey dan Grey hanya merespon dengan anggukan. Shin Hye agak risih melihat pemandangan ini, ia merasa tidak sewajarnya Grey bertingkah seperti itu didepan orang yang lebih tua.

“Ssinz-sii saya keluar dulu” ucap ahjussi tadi meninggalkan mereka berdua.

“bagaimana? Apa kau betah bekerja disini?” tanya Grey sambil menghenyakan tubuhnya dikursi empuk itu.

“hya! Grey-kun! Kau ini keterlaluan sekali bersikap seperti itu pada orangtua, walaupun kau itu bos setidaknya ahjussi itu lebih tua darimu” terang Shin Hye, ia masih merasa tidak enak dengan apa yang dilihatnya barusan.

“whae? Apa aku terlihat kurangajar?” Grey menegakan tubuhnya membuat Shin Hye terlihat begitu pendek disampingnya.

“nde!” jawab Shin Hye sambil mencondongkan tubuhnya agar terihat sejajar dengan Grey. “ayo berdiri” Shin hye menarik tangan Grey untuk berdiri berhadapan dengannya.

“kita mau dansa?” tanya Grey dengan alis terangkat sebelah.

Shin Hye mendengus mendengar pertanyaan konyol itu, ia berdiri disamping namjah itu dan menepuk pundak Grey, “membungkuk!” perintahnya.

“untuk apa? Kalau mau dansa langsung saja tidak perlu ada pemanasan seperti ini” gerutu Grey yang sudah tertunduk 90 derajat.

Shin Hye berdiri didepannya dengan tangan berkacak pinggang. “bagus, beginilah cara yang baik saat bertemu orang yang lebih tua” ucap Shin Hye sambil berdecak, “sekarang bangkit dan tunjukan senyum seperti ini..” Shin Hye mempraktekan senyum yang menunjukan 12 baris giginya.

“kau ini sebenarnya sedang mengajariku apa sih?” tanya Grey bingung.

“ah aku sedang mengajari bagaimana bersikap kalau bertemu dengan orangtua, aku tahu kau lama di Kanada dan pasti kurang tahu kebiasaan orang Korea, tapi tenang saja aku akan mengajarimu sedikit demi sedikit” cerocosnya. “ayo ikuti senyumku tadi, seperti ini” ulangnya.

Grey tidak bisa menahan tawanya melihat senyum lucu yeojah itu, ia mengagumi bagian paling mencolok diwajah tembam itu, matanya, begitu gelap tapi memancarkan sinar yang membius orang yang melihatnya. “seperti ini?” tanyanya sambil meniru senyum Shin Hye.

“majayo!!!!” seru Shin Hye sambil bertepuk tangan kesenangan, “kau itu punya senyum yang sangat bagus Grey-kun, kau terlihat sangat tampan kalau tersenyum. itu jujur dariku” tegasnya.

Grey hanya manggut-manggut saja, sebenarnya tujuannya kemari ingin mengajak Shin Hye makan malam dan sekalian mengantar yeojah itu pulang. “aku lapar, kau bisa tunjukkan aku tempat makan yang enak Ssinz-sii?”

“ah, tentu saja. aku sangat tahu sekali, tapi kau yang traktir ya?” tawar Shin Hye.

“tentu saja” jawab Grey panjang.

Mereka sepakat memilih tempat makan yang terletak di pasar Myeongdeong. Ia sengaja mengajak namjah itu berkeliling pasar malam-malam seperti ini untuk melihat ramainya Seoul saat malam hari. Mereka memarkirkan mobil mereka agak jauh dari tempat mereka makan dan mereka menempuh dengan jalan kaki santai ke restoran itu.

“oetteokeh? Chohayo?” tanya nya melihat Grey yang masih agak sulit menjemput jajangmyeon yang masih banyak itu dengan sumpit.

Grey menggigit bibirnya setiap mencoba menjepit mie hitam legam itu, “ini enak tapi makan nya sangat butuh konsentrasi tinggi ya?” gumamnya sambil menyeka keringat dipuncak kepalanya, Ia mendongak kemangkuk Shin Hye yang sudah kosong. “ah mianhae Ssinz-sii aku makannya agak lambat, sumpit ini menyebalkan sekali” gerutunya kesal.

“kwenchana, aku akan menunggu sampai mie itu habis” jawabnya. Ia mengaduk tas nya mencoba mencari ponselnya, saat ia sedang sibuk mengaduk ia tanpa sengaja menemukan kalung dengan liontin berbentuk setengah hati, ia langsung teringat wajah Hongki. Ia membuka liontin itu dan terpampang wajah Hongki yang tersenyum memamerkan gigi kecil-kecilnya. Kalung itu merupakan kalung persahabatan mereka dan mereka sengaja bertukar foto agar mereka dapat saling mengingat satu sama lain dan selalu terasa dekat saat memakainya. Ia biasanya tidak pernah melepas kalung itu begitupula Hongki tapi, akhir-akhir ini ia sering lupa untuk mengenakannya saking sibuknya ia bekerja.

Grey menghela nafas setelah berhasil menyumpit potongan ayam itu dan mendongak menatap Shin Hye yang sedang serius memandangi sebuah liontin berbentuk setengah hati. Ia berdeham, “kalung itu dari namjah-chingumu ya?” tanya Grey penasaran.

Shin Hye hanya tersenyum tipis sambil menggeleng, “anieyo, ini kalung persahabatan. aku sangat menyesalkan karena lupa memakai kalung ini, aku jadi merasa sangat jauh sekali dengan sahabatku itu” sesalnya. Ia membuka pengait kalung itu dan memasangnya kembali di leher. Jujur ia sangat merindukan sosok Hongki, biasanya yang menemani makan disini adalah namjah itu. ia rasanya ingin menemui Hongki tapi ia takut kalau namjah itu malah mengocehinya karena belum menyelesaikan lagu untuk single duet mereka. “Hongkia…aku akan menyelesaikan lagu kita itu, aku janji” batinnya.

“kwenchana? Kau terlihat diam sekali sekarang…kau membuatku takut saja”  gumamnya tanpa bergeming dari sumpitnya.

“ania… Grey-shi apa kau sudah selesai makannya? Aku jadi badmood disini” eluh Ssinz.

Grey mendongak dari mangkuknya, “katamu tadi mau menungguku sampai mie ini habis” protesnya. Lagi-lagi yeojah itu hanya menghela nafas panjang. Ia meletakan sumpitnya dan mengambil kaleng bir disamping mangkuknya itu “alright, I’ve done…tapi ayo bersulang dulu, jangan sedih lagi”   Grey mengacungkan birnya kearah Shin Hye.

Shin Hye mengambil bir nya juga dan menempelkannya dengan bir Grey.

“geonbae” seru mereka serempak lalu menegak bir mereka masing-masing, Grey langsung mengernyit sehabis menegak bir itu. Shin Hye merasa beruntung yang menemaninya di restoran ini adalah Grey, namjah yang tidak membosankan dan lucu. “kalau tidak kuat minum lebih baik memesan air mineral saja”  ejek Shin Hye sambil beranjak dari tempat duduk sambil menenteng tas nya.

Mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan berkeliling pasar. Shin Hye ingin menyegarkan pikiran nya yang sekarang sedang kacau.

*4*

Allen beringsut dari tempat tidurnya dan kaget melihat jam sudah menunjukan pukul setengah delapan malam, ia beranjak dan hendak mengganti pakaiannya dengan gaun tidur. Setelah selesai berpakaian ia berjalan keluar, ia melirik pintu kamar Hongki terbuka. Entah kenapa ia ingin berhenti sebentar.

Hongki berjalan mondar-mandir seperti setrikaan dengan ponsel terus menempel di telinga kirinya. “kau ceroboh sekali Hyeong!!!! Sudah kubilang single itu belum pasti keluarnya kapan, aku bahkan tidak tahu apakah Shin Hye sudah menulis lagunya apa belum!” teriaknya kesal. Rasa nya ia ingin sekali menjerit didepan wajah manajernya itu.

“mwo? Kau bilang ini salahku? Hya hyeong-nim kau tidak bisa mengambil keputusan sendiri, aku ini artismu yang menjalani pekerjaannya adalah aku dan seharusnya kau diskusikan dulu denganku. Bagaimana ini singlenya sudah harus keluar pertengahan Februari ini? kami mau rekaman pakai apa HYEONG!!!” lagi-lagi ia menjerit kesal.

Allen mendengar namanya (Shin Hye) disebut-sebut, ia ingin tahu apa yang sedang dibicarakan Hongki mengenai dirinya itu ditelpon. Ia nekat masuk kedalam kamar tersebut. “Hongkia” panggilnya.

Hongki menoleh kaget melihat Shin Hye yang sedang berdiri dibelakangnya, ia menatap ponselnya itu, “ya sudah hyeong nanti aku hubungi kau lagi, aku tutup duluan” ucapnya cepat. Ia langsung memasukan kembali ponselnya itu kesaku celana tidurnya itu. Ia memandang aneh Shin Hye, baru kali ini ia melihat sahabatnya itu mengenakan gaun tidur panjang biasanya juga yeojah itu mengenakan celana piyama dengan kaus biasa saja dengan menenteng gitar berkeliling rumah ini.

“Kau sudah bangun? Maaf aku lupa membangunkanmu” ucapnya sambil membasahi bibir atasnya. “aku sudah siapkan makan malamnya, ah ayo nanti keburu dingin” Hongki mengajak yeojah itu keluar dari kamar dan segera menuju meja makan yang terletak di dapur.

Hongki tidak terlalu berkonsentrasi dengan hidangan dihadapannya itu, entah kenapa pandangannya terus terarah kearah yeojah dihadapannya itu yang sedang asyik menikmati makan malam tersebut.

Allen mendongak dan mendapati Hongki yang sedang melamun memandang wajahnya, ia berdeham dan menghentikan aktivitas makannya sejenak sekalian Ia juga ingin menanyakan hal yang ditelpon tadi. “Hongki maaf sebelumnya, aku tadi sempat mendengar pembicaraanmu ditelepon dan kau menyebut namaku, memangnya ada masalah apa?”

“hah? Ketahuan deh..” gumam Hongki sambil meringis tidak enak pada Shin Hye. Ia bingung apakah ia sudah harus menceritakannya apa tidak. “Shin Hye-ah..begini, sebenarnya..eh..sebenarnya  itu tadi telepon dari manajerku” jawabnya terbata.

“sepertinya harus kuceritakan padanya tentang masalah ini”  batin Hongki pasrah. Ia tidak bisa menahan untuk menceritakan mengenai kontrak itu karena yang bermasalah dengan kontrak tersebut adalah Shin Hye jadi ia tidak bisa ikut campur karena ia hanya rekan duetnya saja, di tambah lagi bulan Februari sudah semakin dekat.

“ kalau itu menyangkut diriku katakan saja” tukas Allen.

Hongki mulai menceritakan inti permasalahan mengenai kontrak tersebut dengan yeojah itu, mulai dari awal sampai akhir  tidak ada yang terlewatkan dan beruntungnya yeojah itu mendengarkannya dengan serius.

“wah itu menarik sekali, debut pertamaku akan bersama mu Hongki, aku senang sekali” takjub Allen sambil tertawa memandangi wajah Hongki yang sama sekali tidak sebahagia dirinya.

“ne ne ne…itu memang menarik sekali tapi, apa kau sudah menyiapkan lagunya tembam?!”  tanya Hongki berdiri sambil mendekatkan wajahnya kearah yeojah yang sedang asyik tersenyum lebar itu.

Allen menjauhkan wajahnya dan mulai melamun, “belum..” jawabnya sambil menggelengkan kepala, kali ini ia tidak berani menatap Hongki, ia hanya menunduk sambil menggigit bibir.

“hua chinca!! Bagaimana bisa kau sesenang itu sedang, sedangkan lagu nya saja belum ada” ucap Hongki gemas. Ia menghela nafas beberapa kali mencoba menenangkan dirinya agar tidak emosi.

“baiklah” Allen berdiri dan menatap lurus kemata Hongki, “kau tidak perlu khawatirkan hal itu, kau percaya saja padaku” tegasnya seolah berani menjawab tantangan dari namjah itu.

Hongki menyipitkan matanya sambil mengangguk setuju walaupun ia sedikit meragukan sahabatnya itu.

 Author: TanMayang

4 thoughts on “[On Going FF] Coincidence – Chapter 2 : That Eyes!

  1. annyong…so sweet…sya sngt myukai crta ini…stiap ari sya msti tnggu episod yg akn dtg…sya hrap org yg mnlis crta ini untuk slma nya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s