[On Going FF] Coincidence – Chapter 1 “INTRODUCING”

Author : TanMayang

The Casts:

  • FT Island Choi Jonghun, as Grey Choi
  • FT Island Lee Hongki, as Lee Hongki
  • Park Shin Hye, as Park Shin Hye and Allen Park

Genre : Romantic Comedy

Introducing

*Grey POV*

Grey menghenyakan tubuh pegalnya ke sofa putih yang terletak di ruangan tengah, berhadapan langsung dengan TV LCD 24 inch yang menempel di dinding bercat ungu dengan corak emas itu. Grey sudah menetap selama tiga hari di Seoul, ia tinggal dilantai tiga belas disebuah kondominium yang ternama di Seoul.

“Nuna…neo oediga?” gumamnya panjang mengingat wajah gadis yang membuatnya rela jauh-jauh datang ke Korea.

Tiba-tiba sesuatu yang bergerak dan mengeluarkan dengkuran keras keluar dari perutnya. Ia  benar-benar sibuk dengan urusan perusahaan nya yang selama ini ternyata berantakan total. Sampai-sampai ia sembarangan mengisi perut ini dengan jajanan jalanan yang kurang bersahabat dengan perutnya yang memiliki sedikit gangguan pencernaan itu.

Dengan malas ia berjalan menuju kulkas yang terletak di dapur, ia bahkan begitu malas untuk melepas kemeja hitam yang masih dimasukan kedalam celana panjang hitam nya. Ia melongo dan memasukan kepala ke dalam kulkas mencari sesuatu yang bisa dimakan tapi NIHIL! Ia membanting pintu kulkas itu sambil mengutuk dirinya sendiri.

“Sepertinya aku perlu ke supermarket” ungkap nya malas.

Grey berjalan keluar dari dapur dan mengambil jaket hitam panjang selutut yang tergantung di dekat pintu keluar. Ia juga mengenakan kacamata bening yang selalu membantu penglihatannya yang kurang baik. Berada diluar malam-malam seperti ini, dengan suhu minus 2 derajat celcius benar-benar diluar akal pikirannya. Ia memilih berjalan ketimbang naik merci nya yang  selalu membuat repot saja. Lagipula tempatnya tidak terlalu jauh dari gedung apartemennya.

Ia tiba di mini market yang dimaksudnya, ia segera masuk kedalam dan  langsung merasa nyaman seketika diruangan itu, alunan musik klasik dan suasana sepi, tenang yang membuatnya lebih leluasa belanja untuk keperluannya selama sebulan kedepan. Ia mengambil troli dan mulai berkeliling, ini pertama kalinya ia belanja sendirian membeli keperluan untuk dirinya sendiri.

 

*Hong Ki POV*

HongKi mengendarai mobil sport nya dengan kecepatan tinggi munuju Hongdae, ia sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan teman dekatnya yang akhir-akhir ini membuatnya pontang-panting dikejar surat kontrak dari salah satu label rekaman.

“Hya hyung pelan-pelan saja, kau tahu dari tadi aku menahan nafas dalam mobil ini! Tenang saja Hongdae tidak akan pergi kemana-mana kok!” protes Seung Hyun.

Hongki memandang dongsaeng nya itu dari kaca diatas kepalanya, sambil mengerucutkan bibir dan wajahnya seperti sangat kusut. “kau tidak tahu penderitaanku Seung Hyuni!!! Aku merasa umurku berkurang sepuluh tahun gara-gara Shin Hye, benar-benar keterlaluan, ia sama sekali tidak memikirkan aku, temannya sendiri!” cerocosnya.

“hya memangnya kalian menandatangani kontrak apa sih?” tanya Minhwan yang mulai penasaran kenapa Hyung nya sebegitu gelisahnya.

“kontrak album kolaborasi bersama Shin Hye, perusahaan itu ingin mengorbitkan Shin Hye dengan syarat harus berkolaborasi dengan artis terkenal dan ia memohon padaku agar mau jadi teman duetnya” jelasnya panjang kali lebar.

“lalu hyung menerimanya?” tanya Minhwan lagi.

“tentu saja Minari!!! Dia itu temanku, mana mungkin aku tidak mendukung temanku sukses. Aku tahu sekali si tembam itu punya suara yang bagus, ia juga pintar menciptakan lagu” pujinya.

Mereka akhirnya tiba di Hongdae, surganya band indie. Shin Hye sangat terkenal di daerah ini dan melalui tempat ini juga temannya itu punya banyak teman selebritis. Hongki langsung masuk kedalam gedung yang lebih mirip ruko usang itu.

Hongki mendahului masuk lewat pintu samping disusul dengan kedua dongsaengnya yang tampak asing dengan suasana diruangan yang bising dengan suara permainan musik dari band rock yang sedang tampil. Di beberapa sudut ruangan itu kadang mereka menjumpai beberapa artis yang sedang minum bersama teman diluar profesi mereka. Hongki menatap sekeliling dan menemukan Lady Jane, salah satu “Hongdae Princess” sama seperti Shin Hye. Ia menghampiri gadis itu.

“Ah.. Hong Ki-ah…” sapa Jane yang tampak kaget melihat kedatangannya bersama member FT Island.

Hampir sepanjang mereka berada diruangan itu mata para yeojah tidak berhenti menatap mereka dan ada juga yang memotret mereka.

“Jane nuna annyeong” sapa nya sambil membungkuk dan tersenyum kepada Jane dan teman-teman nuna itu.

“nde..annyeong..tumben sekali kau kemari tidak bersama Samdi”goda Jane.

“aku Cuma mau mampir sebentar saja nuna, aku sedang mencari Park Shin Hye, apa dia akan tampil malam ini?” tanya nya. Ia tidak memperdulikan dongsaeng nya yang sedang dikerumuni para yeojah yang meminta foto bersama mereka.

Jane mengangguk dengan alis bertaut menanggapi pertanyaan Hongki barusan. Ia meletakan gelas minumannya dan mengajak Hongki untuk duduk di kursi didekat meja bartender.

“Park Shin Hye, sudah dua minggu ini aku tidak melihat nya, dan kata temannya ia sudah tidak lagi ngeband bersama mereka” Jane menjawab pertanyaan Hongki tadi.

“mwo?” ungkapnya tidak percaya. “ah, chinca!!!! Kenapa bisa seperti itu?’’ tanya nya lagi.

“aku juga tidak tahu persis alasannya Hongki, tapi memang akhir-akhir aku melihatnya seperti banyak sekali beban pikirannya” jawab Jane sambil menghela nafas panjang.

. “’Kalau begitu nuna aku pulang dulu, dasar kau tembam!!!!” ucapnya geram. Ia beranjak dari kursi nya dan memutuskan melanjutkan pencariannya lain waktu.

“Hongkia..” panggil Jane menghentikan langkah Hongki. “kau cari saja kerumahnya” usul Jane.

Ia hanya mengangguk, menyutujui usul tersebut dan ia juga berharap semoga Shin Hye ada dirumah.

 

**Allen POV**

Allen keluar dari restoran mie yang terletak di sekitaran Hongdae. Ia memutuskan mengisi perut kosongnya dahulu lalu kemudian mencari tempat tinggal yang alamatnya diberikan oleh pamannya di Jepang. Ia baru datang di kota ginseng ini dan hanya ia seorang diri, ia belum hapal betul jalanan Korea.

Ia menyilangkan tas sling nya kebelakang pinggang. “Allen-ah..hwaiting” ucapnya sambil mengepalkan tangan ke udara.

Ia mulai berjalan di lorong kecil yang diapit beberapa ruko. Bulu kuduk nya sedikit merinding berjalan sendirian seperti ini, sangat gelap dan juga udara dingin yang sangat menusuk walaupun ia memakai mantel tebal.

“gedung 15” ucapnya dihadapan sebuah gedung tersebut. Daerah ini membagi gedung apartemennya dengan nomor. Alamat yang dicarinya itu sedikit membuatnya kesulitan karena nama jalan yang menggunakan hangul itu membuatnya harus mengeja dengan benar. Ia terus berjalan dengan tangan menenteng kertas penunjuk alamatnya, langkahnya sedikit dikebutkannya.

Ia mulai merasakan perasaan janggal dan tidak enak. Jalanan semakin gelap dan dari tadi terdengar suara langkah kaki dibelakangnya. Ia merasa seperti ada yang mengikutinya dari tadi, ia menghentikan langkahnya sejenak dan menatap kebelakang. Tidak ada apapun, ia lalu melanjutkan jalannya lagi.

Lagi-lagi suara langkah kaki terdengar bahkan lebih dekat dari yang tadi, ia berhenti dan memberanikan menoleh kebelakang. Tiba-tiba sebuah bayangan dengan cepat melintasinya, merampas ponsel dan dompet serta kertas yang sedang digenggamnya. Ia hanya terpaku menatap orang tersebut terus berlari menuju jalanan besar.

“ouw Shit!” ia baru sadar kalau ia dirampok, ia juga baru sadar bahwa kertas yang penunjuk alamat yang ia cari juga ikut terbawa perampok itu. Dengan cepat ia mengejar perampok itu.

“Hey…ahjussi…tunggu dulu” jeritnya sambil terus berlari tapi orang tersebut menengok saja tidak. Ia tidak peduli kalau perampok itu mau membawa ponsel atau pun dompetnya tapi ,kertas itu.. “ANDWAE!!!!” teriaknya dalam hati.

Perampok itu terus berlari sampai ke jalanan. Lelaki itu berlari dengan sangat gesit melewati mobil yang lalu lalang. Allen terus berlari mengikuti kemana pun perampok itu pergi. Mereka memasuki jalanan sempit lagi. Ia heran kenapa daerah ini begitu sepi, “Ahjussi, kertas itu, hey itu berharga sekali” teriaknya dengan suara yang mulai serak. Ia merasakan kaki nya sudah mulai sakit, saat ia hendak menyebrang jalan, tiba-tiba mobil sport berwarna hitam lewat dengan kecepatan sedang, bergerak kearahnya, menghantam dan melemparkan tubuh nya jauh dari tempat ia berdiri tadi.

 

*Park Shin Hye POV*

Ia manggut-manggut sendiri, sambil bernyanyi kecil, menikmati dentuman musik dari earphone nya yang berwarna putih dan pink itu. Ia sedang mendengarkan suara dari idola nya, Joe Jonas, “See No more”, ia sangat menyukai lagu baru idola nya itu. Beruntung sekali pengunjung mini market malam ini sepi, mungkin karena udara sangat dingin.

“agashi…” seorang namjah dengan membawa troli yang berisi sangat penuh berdiri menunggu dihadapan kasir, dan siap untuk membayar. Namjah bermata sendu itu sudah memanggil Shin Hye beberapa kali tapi yeojah itu tidak mendengar malah menguatkan suaranya bernyanyi.

“I don’t wanna see no more..no no” Shin Hye bernyanyi dengan suara yang tiba-tiba meninggi mengiringi suara penyanyi aslinya, ia lupa bahwa ia sedang bekerja sekarang. Saat ia sedang asyiknya bernyanyi, tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya ringan dari belakang, ia menoleh sambil melepas sebelah earphone nya.

Shin Hye terperangah, terkejut melihat bos nya yang sedang berdiri sambil memandangnya dengan tatapan marah. “hya!!! Kau ini mau bekerja atau tidak sih??”teriak ahjumma bertubuh gempal itu.

“ah mianhae ahjumma” ucapnya sambil kembali berdiri menghadap mesin kasir kembali. “silahkan tuan” Ia mempersilahkan pelanggan yang sedang berdiri dibelakang bos nya itu. Ia menunduk menatap mesin kasir itu dan bos nya kemudian berlalu.

Namjah dengan troli penuh itu memajukan troli nya sambil mengeluarkan belanjaanya. Shin Hye memberanikan diri mendongak setelah melihat bos nya sudah tidak sedang mengawasi nya lagi.

Ia mengambil beberapa barang tersebut dan mulai mengkalkulasikannya, “mian ya tuan, banyak sekali belajaannya tuan, mau pesta ya?” tanya nya sambil mendongak menatap pelanggannya itu, tidak lupa ia menyunggingkan senyum terbaiknya. Ia terkejut melihat wajah namjah dihadapannya sekarang, “tampan sekali, seperti nya bukan orang Korea” pujinya dalam hati, “tidak kalah dari Joe, ya ampun hidungnya” batinnya berteriak seru.

“ah tidak, ini Cuma untuk simpanan selama satu bulan ini” jawab namjah itu. namjah itu mendongak dari ponselnya dan tersenyum namun, seketika senyum itu lenyap sesaat setelah melihat wajah Shin Hye. “nuna…” sapanya panjang.

“mwo? Nuna? Nugu?” Shin Hye terbata bingung melihat namjah itu, perasaan tidak ada orang lain selain mereka berdua, ia bingung siapa yang dipanggil nuna oleh namjah tampan ini.

“Allen nuna…lama sekali aku tidak bertemu denganmu, apa kabarmu?” tanya namjah itu sambil tersenyum bahagia, seperti baru mendapatkan grammy award.

“tunggu dulu, siapa yang kau maksud nuna barusan? Dude!”

“hya, nuna kau sungguh keterlaluan baru berpisah dua tahun kau sudah melupakanku” protes namjah manis itu.

Shin Hye mengangkat sebelah alisnya, ia berpikir belum pernah bertemu dengan namjah ini sebelumnya, tapi namjah ini mengatakan yang sebaliknya. “hya ngomong-ngomong, kau bertemu dengan ku dimana?” tanya nya.

“Allen nuna… kau itu sekretaris di kantor ayahku dulu, kau ingat kan aku sering mengunjungi kantor, mengajakmu makan siang bersama, nonton film bersama, karaoke, ke salon, kemana saja,   kau ingat kan?” namjah berhidung mancung itu mendekatkan wajah nya ke wajah Shin Hye sambil mengerjapkan mata beberapa kali.

“ani! Aku tidak ingat sama sekali, mungkin kau salah orang tuan” ucapnya datar dan tanpa ekspresi. “ehm, namaku juga bukan Allen” tambah nya, sambil menjentikan jari nya.

Namjah itu menjauhkan wajahnya dari wajah Shin Hye dengan tampang cemberut. Ia masih meyakini kalau yeojah dihadapannya ini Allen, dulu memang yeojah yang dicintainya itu doyan acting dan aktingnya memang benar-benar meyakinkan. “kau kenapa bisa bekerja disini nuna?” tanya nya sambil mengeluarkan dompet berbahan kulit berwarna putih dari saku dalam jaketnya. Ia menyerahkan kartu kreditnya.

“tidak ada pilihan lain, yang penting aku masih bisa mencukupi kebutuhanku sehari-hari serta uang sewa apartemenku, itu sudah sangat cukup bagiku” jelasnya panjang kali lebar, “hya, neomu baboya Ssinzah..”gerutunya pada diri sendiri, ia sadar tidak seharusnya mengatakan hal pribadi seperti itu pada orang yang baru dikenalnya.

“ehm begitu, kalau begitu ini” namjah itu menyodorkan kartu nama nya pada Shin Hye. “kalau kau sudah bosan disini, kau bisa datang ke kantorku kapan pun aku siap menerimamu kembali menjadi sekretaris dikantor kami, aku pulang dulu nuna, selamat malam” ucap namjah itu sambil melambaikan tangan dan tersenyum manis yang memamerkan ketiga belas giginya yang tersusun rapi.

Shin Hye terus memandangi namjah itu berjalan sampai menghilang dari pintu, ia memasati kartu nama tersebut, “Choi Grey” ucapnya, ia tersenyum sendiri membaca nama namjah imut itu. ia memasukan kartu nama itu ke saku jeans nya.

 

*Hongki POV*

Ia mondar-mandir sendiri di depan pintu ruang gawat darurat dengan mulut berkomat-kamit sendiri mendoakan yeojah yang ditabraknya tadi yang tak lain tak bukan adalah sahabat nya sendiri yang sedang dicari-carinya selama ini, Shin Hye.

“hya hyeong, jangan mondar-mandir seperti gasing dong, membuatku pusing saja” gerutu Minhwan. “Shin Hye nuna pasti baik-baik saja” tambahnya sambil mengurut puncak kepalanya.

Hongki duduk di samping Seung Hyun yang sudah terdiam sedari tadi dengan wajah pucat, ia tahu dongsaeng nya ini gampang drop kalau sudah cemas.

Selama setengah jam ia menunggu didepan pintu tersebut dan akhirnya dokter yang merawat sahabatnya itu keluar dari pintu.

“pak dokter bagaimana kedaan Shin Hye?” tanya nya yang langsung berlari menyerbudokter itu.

“ia tidak apa-apa Hongki-shi kau tenang saja, besok pagi mungkin ia sudah sadar, tadi kami memberinya obat penenang dan penghilang rasa sakit supaya ia bisa beristirahat dahulu” jawab dokter yang dari wajahnya tampak sudah berumur hampir setengah abad itu.

“ne ne, geomapseumnida pak dokter, ah chinca” ucap Hongki sambil memeluk dokter itu. ia tertawa gembira sendiri bahkan sampai meloncat-loncat dan bergoyang pantat, tarian khas setiap ia sedang merasa bahagia. “oh ya, apa aku boleh melihatnya ke dalam” tanya nya lagi.

“tentu saja, tapi jangan berisik ya Hongki-shi” ucap dokter itu sambil memanggut beberapa kali.

Seung Hyun dan Minhwan tertawa tertahan sendiri mendengar ucapan dokter itu barusan, mereka sangat menyadari bahwa dokter itu juga pasti sadar bahwa ekspresi hyeong mereka tadi sangat berlebihan.

“hya hya hya kalian berdua kenapa tertawa sendiri, apa ada yang lucu?” tanya Hongki sambil menaruh tangan dipinggang.

“anieo hyeong, cepatlah masuk dan lihat keadaan nuna, jangan lupa untuk jangan berisik” ucap Seung Hyun dengan mulutnya yang tertahan, rasanya ia ingin meledakan tawanya itu tapi takut hyeongnya tersinggung.

“lalu kalian?” tanya Hongki yang masih belum peka dengan sindiran dongsaeng nya itu.

“kami mau menelpon manajer dulu, aku yakin dia sekarang sport jantung memikirkan kita, sekalian kami juga mau cari makan” Ujar Minhwan sembari menarik tangan Seung Hyun untuk segera berlalu.

“hey tungggu dulu” teriak Hongki. Kedua dongsaeng nya itu menoleh serempak, “tolong jangan ceritakan mengenai Shin Hye pada hyeong-nim ya, cukup kita bertiga saja yang tahu, kalian mengerti?” tegas nya.

“ne hyeong araso!” jawab Seung Hyun sambil melambaikan tangan pada Hongki.

Hongki memandangi kedua dongsaengnya terlebih dahulu sampai menghilang di ujung koridor baru kemudian masuk keruangan tempat Shin Hye dirawat. Ia membuka pintu yang tidak terkunci itu dan perasaan nya langsung campur aduk saat melihat sahabatnya itu terbaring lemas dengan perban melilit di kepala yeojah itu. Hongki berjalan mendekati sahabatnya itu dan berdiri disamping tempat tidurnya.

“miane Ssinz-ah… aku sungguh tidak berharap kita bertemu dengan cara ini walaupun, aku memang sangat kesal padamu dan ingin rasanya menjitak kepalamu” Hongki menggenggam tangan Shin Hye yang kulit nya agak lecet karena tergesek aspal jalanan.

Hongki menaikan tangannya menuju pipi Shin Hye yang untungnya masih mulus tanpa cacat sedikit pun, ia mendesah panjang, “untung saja wajahmu tidak apa-apa Ssinz-ah..” ia mengelus pipi sahabatnya itu dengan sambil mengamati dengan seksama, rasanya ia sudah lama tidak memandang wajah sahabat sekaligus yeojah yang disukainya itu sejak lama. “kau terlihat lebih tirus Ssinz-ah…ah na neomu nappeun chinguyah! Seharusnya aku mengurusimu” sesalnya dengan mulut mengerucut.

 

*Shin Hye Part*

Keesokan paginya…

Shin Hye berjalan lesu ditrotoar menuju mini market tempat ia bekerja, rasanya ia malas sekali bekerja ditengah cuaca dingin seperti ini. Dandanannya pun hari ini sudah persis seperti boneka natal, jaket tebal dengan warna merah terang, topi rajut dengan penutut telinga berwarna jingga kecoklatan, sepatu boot setinggi dibawah lutut berwarna biru tua.

Dari kejauhan Shin Hye melihat seorang namjah sedang berdiri didepan pintu. “tidak mungkin pagi seperti ini ada yang mau belanja” batinnya, ia mempercepat langkahnya. Semakin mendekat semakin ia mengenal sosok tubuh namjah itu, “chogiyo!!” sapanya.

Namjah itu menoleh kearah Shin Hye dan tersenyum manis, setelan nya hari ini lebih resmi dan tampak elegan dengan jas berwarna biru tua yang tambah mempercerah kulit putih nya. “nuna, annyeonghaseo” sapanya.

“hya dude!! Mau apa kau pagi-pagi kemari? Mana mungkin belanjaanmu semalam sudah habis!!” tanya Shin Hye dengan tangan terlipat didepan dada, menunggu jawaban namjah bernama Grey itu.

Grey mengerucutkan bibirnya, cemberut memandang Shin Hye, “aku kemari pagi-pagi kesini hanya untuk bertemu nuna,  nuna kau tambah sinis saja padaku” gerutu nya.

“mwo? Grey-shi…aku bukan nuna yang kau cari-cari itu!! aku Ssinz bukan Allen” tegas Shin Hye melangkah selangkah lebih dekat dengan namjah itu. “kalau sudah selesai aku mau masuk kedalam, cukup malam tadi saja aku dikuliahi oleh bosku” desahnya yang kemudian berjalan melewati Grey yang masih manyun.

“terserahlah kau mau mengatakan kau bukan Allen, tapi wajah kalian… exactly the same” ujarnya lalu dengan gerakan cepat Grey menggaet tangan Shin Hye dan menuntun yeojah itu.

“hya!! Grey-shii kau mau bawa aku kemana? Aku bisa dipecat kali ini!! Jangan main-main denganku ya!!!” Shin Hye ngomel tanpa henti sambil meronta-ronta mencoba melepas tangan yang menentengnya itu.

Hanya senyuman yang diberikan Grey sebagai jawaban untuk pertanyaan Shin Hye,  ia menghentikan langkahnya dan menoleh menghadap yeojah yang wajahnya sudah bertekuk marah. “nuna…memang itu yang aku inginkan, kau tampak tersiksa sekali bekerja disana. Nuna kerja diperusahaanku saja, oke” tawar Grey sambil mengedipkan sebelah matanya.

Tanpa menunggu jawaban dari Shin Hye, ia menggeret Shin Hye lagi menuju mobilnya yang terparkir dipinggir jalan. “kau sudah gila ha!!! Aku bahkan belum setuju dengan tawaranmu” jeritnya sesaat berada didalam mobil mewah yang selama ini diimpi-impikannya kalau sudah menjadi artis kelak.

Selama didalam mobil mereka hanya saling berdiam, Shin Hye sibuk berpikir bahwa bekerja diperusahaan akan menghasilkan uang yang banyak dan tenaga yang dikeluarkan hanya sedikit. Ia memandang wajah Grey yang sedang konsentrasi menyetir, ia mengagumi setiap detil garis diwajah Grey. Ia tidak membayangkan betapa bangga nya gadis yang dicintai namjah ini, selain kaya, tampan, setia, dan “Allen pasti sangat spesial bagi namjah tampan ini” batinnya.

Shin Hye berdeham singkat sambil menoleh takut kearah Grey, “Grey-shi…Allen itu tampaknya sangat berharga sekali bagimu” tanya nya.

Grey menoleh singkat pada Shin Hye, “ehem…” angguknya. “aku jauh-jauh datang ke Korea bukanlah sengaja mau mengurusi perusahaan tapi karena mencari cinta pertamaku itu” jawabnya sambil menyunggingkan senyum penuh harap. “oh ya Ssinz-shi..benarkan itu namamu?” tegas Grey dengan wajah berlebihan seolah kalau salah ia akan dihukum.

“ne…namaku Ssinz” jawabnya sambil tersenyum. Ia senang suasana dimobil sekarang tidak setegang tadi, “memangnya kau datang dari mana? Kau baru ya di Korea? Lalu apakah wajahku benar-benar persis seperti Allen yang kau cari itu?” tanya nya tanpa henti yang mulai tertarik dengan topik pembicaraan mereka.

Grey terkekeh tanpa henti mendengar rentetan pertanyaan tersebut, ia berpikir kalau yeojah disampingnya itu -yang benar-benar membuat jantungnya melompat keluar karena saking miripnya wajahnya dengan Allen- tidak mungkin Allen, sifat mereka jelas berbeda, Allen yang dikenalnya terkesan dingin dan manja sedangkan yang berada disampingnya ini lebih ceria, hangat dan pemberani.

“aku dari Kanada, aku memang keturunan Korea tapi aku sudah lama tidak kemari, dan wajahmu dengan Allen…persis seperti pinang dibelah dua, kau tahu jantungku hampir melompat keluar saat melihat wajahmu, kukira aku sudah menemukan cinta pertamaku itu” ungkap nya.

“benarkah? Wah aku jadi ingin bertemu dengan Allen” ucapnya takjub. “oh ya… apa kau masih tetap mau memperkerjakan aku diperusahaanmu?” tanya nya terbata.

“ne…memangnya kenapa?” tanya Grey balik.

“anio…kukira kau akan mengurungkan niatmu setelah tahu aku bukan Allen, memangnya perusahaanmu bergerak dibidang apa?” tanya nya lagi.

“rekaman, itu bukan perusahaanku itu punya ayahku, aku Cuma membantu menjalankan saja, aku terkejut sekali saat melihat banyak sekali masalah di perusahaan, pegawai yang bersantai-santai” desahnya panjang.

“wah aku suka sekali musik, memangnya kau mau taruh aku dibagian apa?”

“sekretaris…??”

“kau serius?” Shin Hye kurang yakin dengan hal itu.

“kenapa kau kaget sekali? perusahaanku sedang mencari pegawai untuk bagian recording, sekretaris dan marketing”

“bagaimana kalau aku ditaruh dibagian recording saja?” bujuknya.

“serius? Apa kau bisa menjalankan alat perekam yang ribetnya bukan main itu?” Tanya Grey dengan alis sebelah terangkat.

“tentu saja, kau tenang saja, aku sudah berpengalaman dibidang ini” yakinnya.

“baiklah, kalau itu maumu” gumamnya setuju.

to be continue….

see the next chapter…. don’t forget to leave your critic or advice..love ya!!!

 

One thought on “[On Going FF] Coincidence – Chapter 1 “INTRODUCING”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s